Sabtu, 25 April 2009

memori di dalam saat


 

 

Ketika ku terjaga pagi ini

Panca inderaku menerima

Satu,dua rangsang

 

Otakku mengirim pesan

‘dingin’…isi pesannya

 

ketika mata menembus jendela di lembayung pagi

seketika ia mengikuti

setiap butir-butir putih yang baru saja akan memeluk bumi

 

butir salju yang bermesraan dengan tanahku

bumiku yang sudah terlalu berkeringat

 

mereka begitu kasmaran

satu butir salju ditumpuk oleh salju yang lain

seperti anak kecil yang beramai-ramai merubungi sang bunda

sang bunda yang terlihat begitu kusut dari angkasa taman bermain mereka

 

seandainya aku bisa menerka pembicaraan mereka sesudahnya

mungkin hanya ada kata sayang….

 

Seperti aku yang pagi ini merindukan ibuku

Yang begitu ingin memeluk ibuku

 

Ibu…ibu…lelahkah engkau??

 

Mari ibu, mari…kupeluk kau dengan tubuh yang Cuma sebutir ini…

Lelehkan aku dengan hangatmu

Hangat berpeluh keringat akan setiap kerja kerasmu

Biarkan aku melebur bersama asin keringatmu

Ke dalam pori-porimu

Melesak masuk melihat jiwamu yang tak pernah tua

 

Biarkan aku melihat semua memorimu

Mengenang masa-masa kebutaanku akan dunia

Mencerna setiap perlakuan penuh ikhlasmu kepadaku

 

Sehingga aku bisa puas menangisi kebodohanku

Kelupaanku akan jasamu

Abaiku atas milyaran kata-kata doamu

Setiap halaman dari harapan-harapanmu

Waktu yang telah hilang untuk kepercayaanmu padaku

 

Tahukah kau ibu??

Tingkah pongahku  yang akan mendorong

air matamu…

 

Apabila kau tahu ibu…..

Salju mulai turun dan menutupi pekaranganku

Di pagi buta

Di awal bulan oktober…

Tidak ada komentar: