Ketika ku terjaga pagi ini
Panca inderaku menerima
Satu,dua rangsang
Otakku mengirim pesan
‘dingin’…isi pesannya
ketika mata menembus jendela di lembayung pagi
seketika ia mengikuti
setiap butir-butir putih yang baru saja akan memeluk bumi
butir salju yang bermesraan dengan tanahku
bumiku yang sudah terlalu berkeringat
mereka begitu kasmaran
satu butir salju ditumpuk oleh salju yang lain
seperti anak kecil yang beramai-ramai merubungi sang bunda
sang bunda yang terlihat begitu kusut dari angkasa taman bermain mereka
seandainya aku bisa menerka pembicaraan mereka sesudahnya
mungkin hanya ada kata sayang….
Seperti aku yang pagi ini merindukan ibuku
Yang begitu ingin memeluk ibuku
Ibu…ibu…lelahkah engkau??
Mari ibu, mari…kupeluk kau dengan tubuh yang Cuma sebutir ini…
Lelehkan aku dengan hangatmu
Hangat berpeluh keringat akan setiap kerja kerasmu
Biarkan aku melebur bersama asin keringatmu
Ke dalam pori-porimu
Melesak masuk melihat jiwamu yang tak pernah tua
Biarkan aku melihat semua memorimu
Mengenang masa-masa kebutaanku akan dunia
Mencerna setiap perlakuan penuh ikhlasmu kepadaku
Sehingga aku bisa puas menangisi kebodohanku
Kelupaanku akan jasamu
Abaiku atas milyaran kata-kata doamu
Setiap halaman dari harapan-harapanmu
Waktu yang telah hilang untuk kepercayaanmu padaku
Tahukah kau ibu??
Tingkah pongahku yang akan mendorong
air matamu…
Apabila kau tahu ibu…..
Salju mulai turun dan menutupi pekaranganku
Di pagi buta
Di awal bulan oktober…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar